Irvan Nugraha adalah seorang anak muda berusia 15 tahun. Sejak lahir memiliki kelainan Celebral Palsy
dimana anggota badannya lemah, sehingga tidak bisa berdiri atau berjalan sebagaimana mestinya.
Tetapi Irvan memiliki otak yang cerdas. Dalam usianya itu Irvan sudah duduk dibangku SMP kelas 2 (meskipun di SPLB) dan sampai saat ini bersekolah secara verbal, artinya tidak bisa menggunakan kedua tangannya untuk menulis.
Hasil pemeriksaan dr.Novitri, ternyata Irvan masih bisa berdiri, walaupun harus ditolong oleh ayah atau ibunya. Dalam berjalan bila dipegang dari belakang oleh ayahnya, bisa berjalan meskipun tidak sempurna dan tangan kiri harus dikunci oleh ayahnya sebab kalau tidak dikunci akan menghantam barang2 sekitar yang dilewatinya.
Tangan kanan lebih pasive daripada tangan kiri.
Akan lebih cepat berjalan tanpa bantuan orang lain jika memakai kedua dengkulnya.
Kepala selalu mau bergerak ke arah kanan tanpa bisa dikontrol yang seringkali membuat Irvan kelelahan.
Dalam berbicara masih bisa me-response pembicaraan; bahkan terkesan Irvan adalah anak periang yang tidak terlalu memikirkan kekurangan fisiknya.
Menurut ibunya, bahkan Irvan suka sekali bermain bola. Punya handphone dan untuk men-dial phone memakai ibu jari kakinya, demikian juga untuk memakai remote control TV dan memakai komputer. (minta laptop pada dr Reggy).
Sejak kecil selalu dirawat di Suryakanti oleh dr Reggy. Tetapi karena sekarang sudah besar dan bukan hanya syaraf saja yang perlu diperbaiki, maka dr. Reggy mengirim Irvan pada Homecare untuk ditangani oleh dr Novitri yang memang bidangnya.
Dibantu oleh Lidya Kidarsa, maka diputuskan bahwa Irvan perlu memakai 2 alat yang berbeda.
Yang pertama adalah kursi roda yang disesuaikan dengan postur tubuh Irvan dan diberi tambahan2 agar postur lebih diperbaiki. Misalnya jangan sampai badannya miring ke kanan maka diberi penyangga disebelah kanan. Lalu dibagian kaki diberi alat yang bisa menyetir kursi roda sehingga menjadikan kursi roda lebih mobile dan tidak cepat rusak baik kursi rodanya sendiri maupun sepatunya yang sering dipakai sebagai alat rem.
Alat kedua adalah yang namanya walker. Walker ini tidak seperti walker biasa tetapi memiliki kekhususan disesuaikan kebutuhan tubuh Irvan.
Walker ini hanya sebagai alat terapi agar Irvan bisa berjalan tanpa dibantu oleh ayah maupun ibunya dan hanya digunakan di dalam rumah saja.
Karena bisa berdiri walaupun tidak sempurna maka Irvan harus sering berdiri dan belajar berjalan dengan kakinya. Sebab, kalau tidak demikian maka akan cepat kena osteoporosis. Jadi terapi berdiri dan berjalan adalah untuk menguatkan tulang2 kaki dan tulang punggungnya.
Demikian juga dengan fisioteraphy. Dr.Novitri mengharapkan Irvan paling sedikit seminggu sekali melakukan fisioteraphy. Gunanya supaya otot2nya tidak menjadi kaku yang akan berakibat syaraf juga tidak berkembang dan nantinya tangan/jari2nya makin kaku saja.
Tentang kepalanya yang selalu bergerak ternyata adalah akibat dari rasa tidak nyaman saja. Kalau Irvan merasa nyaman/relax maka gerakan kepala juga berkurang.
Nah ada beberapa kendala yang dihadapi oleh orang tua Irvan.
Ternyata, ibu adalah seorang kepala sekolah di Subang (jalan menuju Jakarta dari Bandung, dekat Ciater). Jarak dari rumah ke sekolah ibu sekitar 30km. Rumah dipilih dekat dengan SPLB untuk memudahkan Irvan ke sekolah. Tetapi SPLB itu hanya sampai SMP. Jadi untuk masuk SMA masih belum terbayangkan sedangkan Irvan ingin bersekolah di SMA umum biasa (PD sekali bukan?)
Ibu pernah membawa Irvan berobat ke Solo selama 3 bulan. Selama 3 bulan itu ibu mendapat cuti diluar tanggungan. Baik ibu maupun Irvan merasa nyaman sekali di Solo sebab Solo sangat memperhatikan untuk orang2 cacat. Bahkan mall di sana selalu memberi kemudahan bagi penderita cacat.
Gimana di Bandung ya? Rasanya, jangankan orang cacat, bahkan pejalan kaki biasa saja tidak mendapat rasa nyaman sebab pedestrian untuk pejalan kaki dipakai oleh PKL. Jadi pejalan kaki berebutan kapling ama PKL!!!
Tetapi untuk pindah ke Solo bagi ibu terasa berat sebab sebebtulnya ibu adalah pegawai Depag yang ditempatkan sebagai kepala sekolah pada suatu SD di Subang. Saat ini ada aturan bahwa guru SD juga harus sarjana sehingga pada malam hari ibu mengikuti semacam kuliah untuk meningkatkan dirinya setara S1. Kalaupun misalnya ibu harus pindah ke Bandung, dimana ada mertuanya, maka tidak bisa diharapkan ibu menjadi kepala sekolah. Dengan menjadi guru biasa, apakah cukup biaya untuk menutupi keperluan Irvan? Apalagi ke Solo!!
Ayahnya Irvan adalah pegawai pengairan yang selalu memilih kerja dilapangan, demi mendapat penghasilan lebih untuk biaya Irvan. Seumpama ayahnya bekerja di Bandung, maka hanya kerja kantoran saja. Sekarang ini kerja di lapangan di daerah Purwakarta.
Irvan adalah anak satu2nya pasangan ini. Nampaknya ibu udah gak bisa punya anak lagi, menurut ceritanya, sudah periksa ke dokter kandungan. Ibu terlalu mengalami tekanan dan hanya setahun terakhir ini tidak kuat lagi menggendong Irvan sebab badannya udah membesar.
Sungguh luar biasa perjuangan kedua orang tuanya agar Irvan dapat maju.
"Setidaknya, Irvan bisa berdiri sendiri tidak bergantung pada orang lain" begitu ungkap ibunya.
Saya beri judul postingan kali ini sebagai test case karena ini merupakan kasus pertama yang saya terima. Sudah beberapa kali saya menolak kasus CP. Sekarang saya berani menerima karena ada bantuan dari Lidya Kidarsa dan dr. Novitri.
Ada usul dari teman2 yang membaca blog ini? Mengingat harga alat yang customized tidak murah......
Recent Comments