April 05, 2008

Aqfal

Hari ini ada Aqfal  pasien CP berusia 3 tahun.
Badannya kecil. Umur 3 tahun baru bisa merangkak onggok2 (maju-mundur).
Ngomong juga baru bisa mama-papa.
Belum bisa jalan, tapi suka men-dorong2 kursi.
Hal lain yang juga suka dikerjakan adalah menarik laci lalu menutup kembali.

Ibunya bekerja di BNI. Dan ayah bekerja di Property.
Karena kesibukan orang tua, yang membawa fisio-therapy ya nenek dibantu pengasuhnya.
Akibatnya therapy yang didapat tidak dilakukan juga di rumah.
Ibunya sendiri tidak/kurang mengerti apa yang terjadi dengan anaknya, mengapa anaknya lambat sekali kemajuannya.

Untuk Aqfal, belum diperlukan alat bantu, tetapi therapy yang didapat harus rajin dilakukan dirumah.
Keadaan tulang belakangnya masih bagus, tetapi otot2nya masih lemah. Makanya harus diberi latihan agar otot2nya menjadi lebih kuat dan tulang belakangnya terjaga tidak menjadi bengkok.
Dengan melihat keadaan Aqfal, saya jadi berpikir, berapa banyakkah ibu2 lain yang juga kurang mendapat penjelasan tentang CP??

Dokter Vitri bersedia untuk memberi edukasi yang perlu diketahui orang tua bagaimana menghadapi anak2 seperti ini. Mereka sebetulnya bisa dilatih dan dibimbing untuk dapat berdiri sendiri, tentu disesuaikan dengan keterbatasannya.

Anak dengan kekurangan seperti ini adalah anugerah juga dari Allah. Sebagai orang tua kita wajib mencari ada hikmah apakah dibalik kekurangan anak2 tsb.
Misalnya, anak suka mendengarkan musik. Bagaimana kalau kita pupuk dan dibina sehingga siapa tau kelak bisa menjadi musikus handal?! Hal2 kecil seperti ini perlu menjadi perhatian orang tua.

Duh, saya pengen deh melebarkan sayap homecare ini.

Setidaknya hari ini, kamar tempat Iman dirawat sudah kembali seperti semula ketika Iman dirawat di kamar ini. Sehingga, orang bisa melihat contoh kamar dilengkapi kamar mandinya untuk merawat pasien di rumah. Selain itu kamar ini bisa dipakai oleh dokter Vitri jika perlu memeriksa anak2 CP.....

                            

March 16, 2008

Fitting Pertama

Tanggal 15 Maret 2008 ini diprogramkan untuk fitting pertama bagi Irfan maupun Wendy.




Sudah disepakati sebelumnya bahwa Irfan memerlukan 2 macam alat bantu, yaitu kursi roda dan walker.

Irfan_dan_kursi_rodanya_1








































Irfan_dan_walker













Sedang Wendy hanya perlu memodifikasi kursi roda yang sudah dimiliki agar posisi
duduk lebih benar dan bisa memperbaiki atau menguatkan pinggulnya sehingga harapan untuk bisa berjalan bisa terrealisir kelak.

Rancangan_kursi_roda_wendy
Duduk_gagah

Hari ini kami semua merasa puas sekali.
Terlebih karena Irfan sangat kooperatif dan bisa mengutarakan apa yang diinginkannya. Kami memang sudah bertekad akan melayani se-baik2nya sebab alat2 ini tidak murah harganya sehingga tentu saja berharap bahwa dengan alat2 ini betul2 membawa ke arah yang lebih baik bagi anak2 yang menggunakannya.

Sementara itu Zaki sejak semalam tidur di rumah Wiwi dan Aso. Pagi tadi Zaki tetap menjalankan hikingnya ditemani mas Pepeng dan sopir Dirno.

February 23, 2008

Wendi

Wendi_1

Wendi Ahmad Fauzan.

Nama yang bagus sekali.

Setiap orang tua tentu akan memberi nama yang bagus untuk anaknya. Karena nama itu adalah doa untuk anak tersebut. Dan nama ini akan dipakai seumur hidup. Jadi nama yang melekat pada anak adalah dapat disamakan dengan doa orang tua sepanjang hayat anak tersebut.

 

Wendi  berusia 10 tahun 10 bulan. Belum bisa berbicara. Tapi menurut ibunya, setelah mengikuti speach therapy air liur bisa dikontrol, tidak keluar terus menerus.

Jika menggunakan kursi roda, sangat lincah bergerak disekeliling rumah.

 

Wendi_dikursi_roda_1

 

 

Tetapi jika tidak menggunakan kursi roda maka akan mengesot di lantai.

 


Lagi_ngesot_di_lantai

Tangan dan jari2nya kuat sekali. Apalagi sering digunakan untuk mengayuh roda dari kursi rodanya.

Tetapi pinggulnya kurang kuat untuk dibawa berdiri.

kalau diajak berbicara, mengerti apa yang kita maksud, tetapi tidak mau melihat mata kita ketika kita berbicara. Autis behaviour.


 

 

Pengukuran_oleh_lidya

 

Oleh orang tuanya tidak disekolahkan, jadi komunikasi hanya aahh... iihhh... oohhhh saja.

Alasan tidak disekolahkan karena sering sakit dan sekolah untuk Wendi adalah SPLB-D letaknya agak jauh dari rumah. Rumahnya di Majalaya.

Nampaknya juga agak dimanja oleh kedua orang tuanya, sebab katika homecare menyediakan waktu untuk pertemuan dengan dr.Novitri dan Lidya, mulanya kedua orang tuanya keberatan jika pagi hari sebab Wendi baru bangun jam 10 pagi!! Sedangkan waktu yang disediakan dr.Vitri dan Lidya sangat terbatas.

Orang tua Wendi jauh berbeda dengan orang tua Irfan. Terbukti dengan diperlihatkannya foto2 alat2 therapy yang ada di rumahnya, duplikasi dari alat yang ada di Surya Kanti. Sangat lengkap, tetapi menurut pengakuan kedua orang tuanyapun tidak setiap hari digunakan. Sayang  bukan?


February 09, 2008

Test Case

Irvan_1 Irvan Nugraha adalah seorang anak muda berusia 15 tahun. Sejak lahir memiliki kelainan Celebral Palsy
dimana anggota badannya lemah, sehingga tidak bisa berdiri atau berjalan sebagaimana mestinya.

Tetapi Irvan memiliki otak yang cerdas. Dalam usianya itu Irvan sudah duduk dibangku SMP kelas 2 (meskipun di SPLB) dan sampai saat ini bersekolah secara verbal, artinya tidak bisa menggunakan kedua tangannya untuk menulis.

 

 

Hasil pemeriksaan dr.Novitri, ternyata Irvan masih bisa berdiri, walaupun harus ditolong oleh ayah atau ibunya. Dalam berjalan bila dipegang dari belakang oleh ayahnya, bisa berjalan meskipun tidak sempurna dan tangan kiri harus dikunci oleh ayahnya sebab kalau tidak dikunci akan menghantam barang2 sekitar yang dilewatinya.
Tangan kanan lebih pasive daripada tangan kiri.
Akan lebih cepat berjalan tanpa bantuan orang lain jika memakai kedua dengkulnya.
Kepala selalu mau bergerak ke arah kanan tanpa bisa dikontrol yang seringkali membuat Irvan kelelahan.
Dalam berbicara masih bisa me-response pembicaraan; bahkan terkesan Irvan adalah anak periang yang tidak terlalu memikirkan kekurangan fisiknya.
Menurut ibunya, bahkan Irvan suka sekali bermain bola. Punya handphone dan untuk men-dial phone memakai ibu jari kakinya, demikian juga untuk memakai remote control TV dan memakai komputer. (minta laptop pada dr Reggy).

Sejak kecil selalu dirawat di  Suryakanti oleh dr Reggy. Tetapi karena sekarang sudah besar dan bukan hanya syaraf saja yang perlu diperbaiki, maka dr. Reggy mengirim Irvan pada Homecare untuk ditangani oleh dr Novitri yang memang bidangnya.

 

Lidya_dr_novitri_irvan_2

Dibantu oleh Lidya Kidarsa, maka diputuskan bahwa Irvan perlu memakai 2 alat yang berbeda.

Yang pertama adalah kursi roda yang disesuaikan dengan postur tubuh Irvan dan diberi tambahan2 agar postur lebih diperbaiki. Misalnya jangan sampai badannya miring ke kanan maka diberi penyangga disebelah kanan. Lalu dibagian kaki diberi alat yang bisa menyetir kursi roda sehingga menjadikan kursi roda lebih mobile dan tidak cepat rusak baik kursi rodanya sendiri maupun sepatunya yang sering dipakai sebagai alat rem.

Alat kedua adalah yang namanya walker. Walker ini tidak seperti walker biasa tetapi memiliki kekhususan disesuaikan kebutuhan tubuh Irvan.
Walker ini hanya sebagai alat terapi agar Irvan bisa berjalan tanpa dibantu oleh ayah maupun ibunya dan hanya digunakan di dalam rumah saja.
Karena bisa berdiri walaupun tidak sempurna maka Irvan harus sering berdiri dan belajar berjalan dengan kakinya. Sebab, kalau tidak demikian maka akan cepat kena osteoporosis. Jadi terapi berdiri dan berjalan adalah untuk menguatkan tulang2 kaki dan tulang punggungnya.

Demikian juga dengan fisioteraphy. Dr.Novitri mengharapkan Irvan paling sedikit seminggu sekali melakukan fisioteraphy. Gunanya supaya otot2nya tidak menjadi kaku yang akan berakibat syaraf juga tidak berkembang dan nantinya tangan/jari2nya makin kaku saja.
Tentang kepalanya yang selalu bergerak ternyata adalah akibat dari rasa tidak nyaman saja. Kalau Irvan merasa nyaman/relax maka gerakan kepala juga berkurang.

 

Irvanayahibunya

 

Nah ada beberapa kendala yang dihadapi oleh orang tua Irvan.
Ternyata, ibu adalah seorang kepala sekolah di Subang (jalan menuju Jakarta dari Bandung, dekat Ciater). Jarak dari rumah ke sekolah ibu sekitar 30km. Rumah dipilih dekat dengan SPLB untuk memudahkan Irvan ke sekolah.  Tetapi SPLB itu hanya sampai SMP. Jadi untuk masuk SMA masih belum terbayangkan sedangkan Irvan ingin bersekolah di SMA umum biasa (PD sekali bukan?)

Ibu pernah membawa Irvan berobat ke Solo selama 3 bulan. Selama 3 bulan itu ibu mendapat cuti diluar tanggungan. Baik ibu maupun Irvan merasa nyaman sekali di Solo sebab Solo sangat memperhatikan untuk orang2 cacat. Bahkan mall di sana selalu memberi kemudahan bagi penderita cacat.

Gimana di Bandung ya? Rasanya, jangankan orang cacat, bahkan pejalan kaki biasa saja tidak mendapat rasa nyaman sebab pedestrian untuk pejalan kaki dipakai oleh PKL. Jadi pejalan kaki berebutan kapling ama PKL!!!


Tetapi untuk pindah ke Solo bagi ibu terasa berat sebab sebebtulnya ibu adalah pegawai Depag yang ditempatkan sebagai kepala sekolah pada suatu SD di Subang. Saat ini ada aturan bahwa guru SD juga harus sarjana sehingga pada malam hari ibu mengikuti semacam kuliah untuk meningkatkan dirinya setara S1. Kalaupun misalnya ibu harus pindah ke Bandung, dimana ada mertuanya, maka tidak bisa diharapkan ibu menjadi kepala sekolah. Dengan menjadi guru biasa, apakah cukup biaya untuk menutupi keperluan Irvan? Apalagi ke Solo!!


Ayahnya Irvan adalah pegawai pengairan yang selalu memilih kerja dilapangan,  demi mendapat penghasilan lebih untuk biaya Irvan. Seumpama ayahnya bekerja di Bandung, maka hanya kerja kantoran saja. Sekarang ini kerja di lapangan di daerah Purwakarta.

Irvan adalah anak satu2nya pasangan ini. Nampaknya ibu udah gak bisa punya anak lagi, menurut ceritanya, sudah periksa ke dokter kandungan. Ibu terlalu mengalami tekanan dan hanya setahun terakhir ini tidak kuat lagi menggendong Irvan sebab badannya udah membesar.

 

Sungguh luar biasa perjuangan kedua orang tuanya agar Irvan dapat maju.

 

"Setidaknya, Irvan bisa berdiri sendiri tidak bergantung pada orang lain" begitu ungkap ibunya.

Saya beri judul postingan kali ini sebagai test case karena ini merupakan kasus pertama yang saya terima. Sudah beberapa kali saya menolak kasus CP. Sekarang saya berani menerima karena ada bantuan dari Lidya Kidarsa dan dr. Novitri.

Ada usul dari teman2 yang membaca blog ini?  Mengingat harga alat yang customized tidak murah......

 

 

January 24, 2008

C.P.

Beberapa kali homecare mendapat tilpon orang tua dengan anak C.P. (Cerebral Palsy), yang meminta tolong untuk menyewa kursi roda dan terpaksa ditolak oleh homecare.


Sebetulnya ada juga usaha homecare mencari sampai ke Singapore, tetapi buntutnya selalu meminta ukuran calon pemakai kursi roda tersebut.
 

Ketika hal ini diceritakan pada dr. Reggy dan dr Vitri, beliau2 ini  menganjurkan kami bertemu dengan Lydia Kidarsa.
 

Setelah melalui beberapa kali perjanjian waktu, akhirnya disepakati bertemu pada hari ini.
 

Saya sungguh terpana dengan kehebatan Lidya ini. Lydia mempunyai kekurangan fisik. Sebetulnya anggota tubuhnya lengkap, tetapi lemah untuk berjalan agak jauh. Jadi cara jalannya tidak seperti  yang biasa kita lakukan.
Lydia menamatkan kuliah di Fisika Teknik ITB (satu jurusan ama Iman donk), kemudian meneruskan jenjang S2 di Inggeris untuk Industrial Design Engineering yang berkaitan dengan orang2 disabled, juga memperdalam dalam ergonomi tubuh manusia.
Akhirnya sekarang Lydia mempunyai workshop sendiri dimana beliau dapat meghasilkan alat2 yang bisa digunakan untuk orang2 disabled yang disesuaikan dengan postur tubuh penderita.
 

Saya kagum dengan hasil produknya karena betul2 bisa membuat orang2 disabled itu sangat mobile dan tidak perlu lagi bergantung pada orang lain!
Padahal Lydia ini masih sangat muda.




Saya juga baru tahu dari Lidya, salah satu sebab anak bisa menjadi  CP adalah anak dengan kelahiran premature. Bila otak tidak mendapat asupan oxygen yang cukup maka akan terjadi kerusakan jaringan otak pada anak.
 


Hal lain yang membuat miris juga adalah, adanya orang tua yang seperti menyembunyikan anak CP. Padahal kalo diberi kesempatan sebetulnya anak CP juga bisa berkembang dengan baik khan?



Kalo membaca tulisan saya ini, barangkali gak bisa terbayangkan mengapa saya katakan Lydia hebat.
Yang utama adalah, bahwa ada orang dengan cacat tubuh bisa survive tidak mengeluh atau meminta-minta.
Workshopnya bukanlah workshop besar. Workshop kecil, dimana design dan produk sebagian besar dikerjakan sendiri hanya dibantu beberapa orang saja!



Mudah2an bisa terbentuk kerjasama homecare dengan Lidya sehingga tidak ada alasan lagi dari homecare untuk menampik pasien CP.



My Photo

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

  • Bandung Time:

Powered by Friendster Blogs
Member since 01/2006

Web Counter